Minggu, 16 Mei 2010

Tugas Wawancara Bahasa Indonesia :)

Tema : Pekerjaan di Jakarta

Topik : Pedagang Bakso di Sekitar Kita

Judul : Pengalaman Kerja Pedagang Bakso di Sekitar Kita

I. Pendahuluan

a. Alasan pemilihan judul

Alasan mengapa kelompok ini memilih judul “ Pengalaman Kerja Pedagang Bakso di Sekitar Kita ” , karena kami melihat pedagang bakso jaman sekarang sangat banyak dan beraneka ragam . Apalagi dengan persaingan antar-pedagang yang semakin ketat . Kami pun tertarik untuk mengetahui bagaimana kehidupan mereka dalam menghadapi persaingan antar para pedagang ini , terutama pengalaman kerja mereka selama menjadi tukang bakso . Bagi kelompok ini , pengalaman dalam suatu pekerjaan bisa menjadi pembelajaran bagi kehidupan di masa yang akan datang . Kami juga ingin tahu apa saja keseharian para pedagang ini , apakah menarik atau tidak untuk dibahas . Dengan membaca makalah ini , diharapkan para pembaca mengetahui apa yang tidak mereka ketahui tentang kehidupan para pedagang bakso .Dan diharapkan pula bagi para pembaca agar tidak menyepelekan pekerjaan kalangan menengah ke bawah seperti tukang bakso ini , karena banyak orang yang sukses , yang memulai karirnya dari hal hal kecil seperti ini .

b. Tujuan penulisan judul

Kelompok kami memilih dan menulis judul tersebut bertujuan untuk memberitahukan kepada pembaca hasil wawancara ini , tentang apa saja yang mereka tidak ketahui dari kehidupan para pedagang bakso , sekaligus untuk menambah wawasan tentang kehidupan sekitar kita . Wawasan yang di maksud seperti apa saja suka duka selama menjalani pekerjaan tersebut , bagaimana cara mereka menghadapi kehidupan dengan arah yang semakin tidak menentu , bagaimana untuk mencukupi kebutuhan keluarga beserta anak anaknya dan lain lain .

c. Pembatasan masalah

Pembahasan masalah yang dibahas kali ini tampaknya akan dibatasi oleh beberapa hal . Seperti halnya susahnya mendapatkan informasi yang kami ingin ketahui akibat ketidakmauan para pedagang diwawancara untuk beberapa pertanyaan penting . Dalam hal ini kami menghargainya dan tidak ingin memaksakan jika pedagang bersikap seperti itu karena itu merupakan privacynya masing masing dan mereka tidak ingin mengumbarnya kepada umum .

d. Pemecahan masalah

Kelompok kami berusaha untuk mencari solusi bagaimana memecahkan masalah ini . Akhirnya kami mendapatkan solusinya untuk memecahkan masalah ini , yaitu dengan berdiskusi dengan anggota kelompok , bagaimana cara kita untuk membujuk para pedagang yang akan di wawancarai untuk menjawab beberapa pertanyaan yang tidak ingin mereka jawab .

II. Isi

a. Data ( hasil wawancara )

Hasil Wawancara Bahasa Indonesia pada Pedagang Pertama

“ Pengalaman Kerja Pak Man sebagai tukang bakso di depan Sekolah Providentia ”

Pedagang ini bernama Pak Man . Profesi sebagai pedagang bakso sejak tahun 1980 sampai sekarang . Pendidikan terakhir Pak Man adalah SMP . Lahir pada tahun 1960 dan sekarang umurnya genap 50tahun . Ia berasal dari Purworejo .

Ia memilih pindah ke Jakarta untuk mencari nafkah karena menurutnya di Jakarta peluang dia untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik semakin besar . Tapi pada kenyatanya ia hanya menjadi tukang bakso sampai sekarang . Tetapi beliau tidak menyesali keputusannya tersebut . Baginya , apapun yang ia terima itu merupakan kehendak dari yang maha kuasa . Di Jakarta , Pak Man bertempat tinggal di daerah Pesing dan memiliki rumah sendiri .

Di Jakarta ini , beliau tidak sendiri , karena ia ditemani oleh seorang istri yang bernama Sumiati , berumur 44tahun . Ibu sumiati sering membantu Pak Man untuk berjualan . Saya juga sering bertemu ibu di tempat dagang si Pak Man . Mereka telah menikah selama 31tahun dan sudah memiliki tiga orang anak . anak anaknya masing-masing bernama Eni , Ednu dan Triyanti .

Ketiga anaknya telah menyelesaikan sekolah dengan baik dan dapat membanggakan mereka sebagai orang tua .

Anak pertama bernama Eni yang berumur 30tahun , telah menikah dan memiliki seorang suami bernama Supriyanto . Eni dan Supriyanto ini telah memiliki seorang anak bernama Rini , berumur 4tahun dan mereka sekarang tinggal terpisah dengan Pak Man .

Anak kedua dari pasangan bahagia ini adalah Ednu . Ednu sekarang berumur 26tahun dan ia belum menikah . Ednu bekerja di sebuah perusahaan garment di Jakarta .

Anak ketiga Pak Man dan bu Sumiati adalah Triyanti . Anak bungsunya ini sekarang berumur 20tahun . Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta . Triyanti belum menikah sampai saat ini karena umurnya masih sangat muda . Ia juga masih tinggal bersama kedua orangtuanya .

Pak Man berprofesi menjadi tukang bakso sejak 1980 . Pertama kali ia berjualan di depan sekolah Providentia yang baru di bangun tahun itu . Itu artinya , sebelum sekolah Providentia berdiri , Pak Man sudah berjualan . 30tahun ia berjualan di depan sekolah Providentia menjadikan beliau identik di mata para murid murid . ia sangat terkenal di sekolah Providentia sebagai penjual bakso yang ramah dan baik hati . Kualitas baksonya juga tidak kalah dengan bakso bakso mahal yang lain . Harga per porsinya pun cukup terjangkau , pas untuk kantong murid murid dan guru guru .

Pak Man memilih untuk berjualan menetap dibandingkan berkeliling . Beliau sudah betah menetap di depan sekolah . Ia memilih pekerjaan menjadi tukang bakso di karenakan kemampuannya hanya sebatas membuat bakso . Ia juga mengaku ingin membuka usaha lain , tetapi tidak mempunyai modal dan keahlian .

Penghasilan pak Man sehari hari bisa mencapai 350.000 . Terutama bila dagangannya sedang ramai , ia bisa memperoleh uang hingga 500.000 . Dari penghasilan yang pak man peroleh , ia sudah dapat membeli rumah sendiri , membiayai anak anaknya sekolah dan mencukupi kebutuhannya sehari hari . Ia juga sangat bersyukur , karena dengan berjualan bakso saja , beliau sudah dapat menyekolahkan ketiga anaknya hingga tamat SMA .

Hasil Wawancara Bahasa Indonesia pada Pedagang Kedua

“ Pengalaman Kerja Pak Yanto sebagai tukang bakso di sekitar rumah Anton ”


( Pada suatu siang yang cuacanya cukup panas , Anton sedang mencari tukang bakso yang ingin ia wawancarai untuk tugas Bahasa Indonesia . Akhirnya ia menemui seorang pedagang . Anton pun mendekatinya dan menyapanya .. )

Anton : Selamat siang , pak .

Pedagang : Selamat siang , dik . Ada apa ya ?

Anton : Bolehkah saya mewawancarai bapak sebentar untuk tugas sekolah ?
Pedagang : Oh , tentu saja boleh dik . Silahkan saja !
Anton : Oke deh kalau begitu . Hmm , nama bapak siapa ?
Pedagang : Nama saya Yanto , dik .
Anton : Nama panjangnya pak kalau boleh tahu ?
Pedagang : Bapak Haryanto .
Anton : Oh , sudah ? Hanya itu nama panjangnya ? Tidak ada nama belakangnya lagi pak ? Hahaha .
Pedagang : Tidak ad dik . Cuma itu saja . Hahaha ada ada saja kamu , dik .
Anton : Oh , haha . Hmm , profesi bapak apa yah ?
Pedagang : Yehh si adik ini . Bapak jelas jelas berjualan bakso , kok masih ditanya lagi . Hahaha .
Anton : Hahaha . Oh iya ya lupa pak . Hehehe . Bapak terakhir sekolah sampai jenjang apa pak ?
Pedagang : Maksudnya dik ?
Anton : Hmm , maksudnya bapak itu terakhir sekolah , sampai kelas berapa , pak ?
Pedagang : Oh , saya cuma lulusan SD , dik .
Anton : Oh , kenapa tidak diteruskan sekolahnya , pak ?
Pedagang : Yahh , dik . Namanya juga tidak ada biayanya . Mau gimana lagi .
Anton : Oh , gitu yah . Hmm , bapak sekarang umurnya berapa ?
Pedagang : Umur saya sekarang 51tahun , dik .
Anton : Oh , sudah tua yah pak . Hehehe . Kok masih kuat berjualan , pak ?
Pedagang : Masih dong . Hahaha . Umur boleh tua , tapi stamina bapak masih seperti anak muda . Hehehe .
Anton : Hahaha , dasar si bapak ini . Hmm , Bapak asalnya dari mana ?
Pedagang : Saya asli Kalimantan Selatan , dik .
Anton : Oh , kenapa memilih pindah ke Jakarta , pak ?
Pedagang : Yah , orang orang kan sering mengatakan kalau pindah ke Jakarta , kehidupan kita bisa lebih membaik , mendapatkan uang lebih banyak gitu , dik . Bapak juga ke Jakarta karena di Kampung , saya tidak ada pekerjaan . Hanya menganggur saja di rumah , semacam pengacara , dik , pengangguran banyak acara . Hehehe .
Anton : Oh , kenapa tidak berjualan bakso juga , pak , di Kalimantan ?
Pedagang : Tidak laku , dik , masalahnya . Makanya itu bapak memilih untuk pindah ke Jakarta . Hahaha .
Anton : Oh , gitu yah , pak . Hmm , alamat rumahnya dimana pak ?
Pedagang : Di gang Liam , dik .
Anton : Gang Liam itu di daerah mana yah pak ?
Pedagang : Itu loh , dik . Yang ada ruko Yamaha gede , sebelahnya ada gang kecil rumah saya masuk gang situ .
Anton : Oh , yang ruko Yamaha itu , di daerah jalan panjang bukan pak ?
Pedagang : Iyah , betul sekali , dik .
Anton : Oh , saya tau . Hahaha . Bapak sudah mempunyai istri ?
Pedagang : Ooh , tentu saja sudah , dik .
Anton : Dimana pak istrinya ? Tidak di ajak berjualan ?
Pedagang : Enggak , dik . Istri saya menjaga warung di rumah .
Anton : Oh , bapak dan istri juga membuka usaha lain pak ?

Pedagang : Iya , dik . Kami berdua membuka warung , untuk menambah penghasilan saja . Hehe .

Anton : Oh , begitu yah . Nama istrinya bapak siapa yah ?
Pedagang : Nama istri saya Intan , dik .

Anton : Wah , nama istrinya cantik sekali . Pasti orangnya juga yah , pak ?

Pedagang : Ah , si adik ini bisa saja . Hehehe
Anton : Hehe . Bapak dan istrinya sekarang sudah mempunyai anak ?
Pedagang : Sudah , dik .

Anton : Oh . Berapa banyak , pak , anaknya ?

Pedagang : Anak bapak ada dua , dik .
Anton : Oh , anak bapak ada dua yah . Itu semuanya laki-laki atau dua-duanya perempuan , pak ?
Pedagang : Anak saya dua-duanya perempuan , dik .
Anton : Oh . Anak bapak namanya siapa saja kalau boleh tahu ?
Pedagang : Anak saya yang pertama bernama Irma dan yang namanya kedua Indah , dik .
Anton : Oh , gitu . Kalau yang namanya Irma itu berumur berapa pak ?
Pedagang : Kalau yang namanya Irma sekarang sudah berumur 29 tahun , dik .
Anton : Oh , kalau si Indah , pak ?
Pedagang : Hmm , kalau si Indah sudah berumur 27tahun .

Anton : Tidak ada yang seumuran sama saya yah , pak . hehe

Pedagang : Memang kenapa dik ?
Anton : Tidak apa-apa sih , pak . Siapa tau ada anaknya yang cantik , lumayan pak buat saya . Hehehe

Pedagang : Aduh , si adik ini ada-ada saja .

Anton : Hehehe , jadi malu saya . Itu anak bapak dua-duanya masih bekerja atau sudah menikah semua , pak ?
Pedagang : Hmm , dua-duanya sudah menikah , dik . Sudah tinggal bersama sama suaminya semua .
Anton : Oh . Kenapa bapak masih menjadi tukang bakso ? Kan pasti sudah dikasih uang sama anak-anaknya bapak ?
Pedagang : Yah , dik . Saya tidak mau menerima uang mereka . Lagi pula saya masih bisa dan kuat untuk berdagang bakso . Lagian , uang itu kan di berikan dari suami mereka untuk anak-anak saya . Saya juga tidak mau merepotkan mereka . Hehehe
Anton : Oh , bapak baik sekali yah . Hmm , bapak sudah berjualan bakso sejak kapan , pak ?
Pedagang : Saya sudah berjualan bakso sejak umur 21tahun , dik , untuk membantu ayah saya .

Anton : Oh , usaha bakso ini sudah turun menurun dari ayah bapak yah ?

Pedagang : Iya , dik .
Anton : Oh , begitu . Berarti bapak sudah berjualan bakso selama 30tahun yah , pak . Lumayan lama , yah .

Pedagang : Yah , begitulah dik .
Anton : Hmm , berarti bapak dari 30tahun yang lalu sudah berjualan disini ?
Pedagang : Oh , tidak , dik . Saya dulu membantu ayah berjualan keliling karena beliau tidak kuat mendorong gerobak . Lalu saya yang membantu mendorong gerobak . Tetapi 2 tahun setelah saya menikah , alhamdullilah , ayah saya mendapat tempat untuk berjualan menetap .
Anton : Oh , jadi sudah merasakan bagaimana berjualan menetap dan berkeliling yah , pak .
Pedagang : Sudah dong , dik . Oia , sebentar ya , dik .

Anton : Oke , pak !

( Pak Yanto kedatangan pembeli . Anton pun berhenti bertanya sejenak seraya menunggu pak Yanyo selesai melayani pelanggannya . Tak lama kemudian , pak Yanto sudah selesai , beliau menghampiri Anton . Anton pun langsung bertanya lagi kepadanya )
Anton : Oia ,pak , lebih banyak pendapatan dari berjualan menetap atau berkeliling pak ?
Pedagang : Sama saja lah , dik . Perbedaanya paling hanya sedikit . Kalau berkeliling sedikit lebih banyak . Tetapi tenaga yang dikeluarkan untuk mendorong gerobak juga lebih banyak . Jika berjualan menetap , pendapatannya beda sedikit , tapi tidak terlalu capek , dik .
Anton : Oh , begitu yah , pak . Hahaha . Bapak kenapa memilih menjadi tukang bakso ?
Pedagang : Yah , saya tidak bisa apa-apa lagi , dik . Hanya bisa membuat bakso . Keahlian saya hanya itu . Hehe
Anton : Hmm , penghasilan sehari hari kira - kira berapa yah , pak ?
Pedagang : Yah , kurang lebih setiap harinya 400ribuan .
Anton : Oh . Penghasilan sebesar itu perharinya cukup untuk keperluan sehari-hari bapak ?
Pedagang : Lebih dari cukup lah , dik . Saya juga tidak membutuhkan kebutuhan yang aneh aneh . Hanya untuk makan dan membeli kebutuhan rumah tangga dan bahan bahan membuat bakso .
Anton : Oh . Bapak sekarang rumahya mengontrak atau sudah punya sendiri pak ?
Pedagang : Hmm , punya sendiri , dik . Rumah itu merupakan peninggalan dari ayah saya .
Anton : Oh . Wah , enak dong , pak , sudah mempunyai rumah sendiri .

Pedagang : Hehe, iya dik .

Anton : Ada suka dukanya tidak , pak , selama berjualan bakso ?
Pedagang : Suka duka pasti ada , dik . Yah , paling sukanya bila para pembeli datang terus dan menjadi pelanggan tetap . Itu saja sudah membuat saya senang .
Anton : Oh . Kalau dukanya , pak ?
Pedagang : Paling kalau dukanya , bila bakso yang saya jual tidak habis dan bila para pembeli mengeluh kalau bakso saya kurang enak . Saya merasa sedih akan hal itu .
Anton : Oh , tapi kelihatannya bakso bapak cukup ramai yah . Hahaha
Pedagang : Yah begini lah , dik , kadang ramai , kadang juga sepi tak ada yang membeli . Hahaha .
Anton : Ooh , begitu yah , pak . Hmm , oia pak , saya rasa sudah cukup wawancaranya .

Pedagang : Oh , sudah cukup , dik ? Saya kira masih kurang . Bapak masih bersemangat ini untuk menjawabnya . Hehehe .

Anton : Hahaha , dasar si bapak ini . Terima kasih yah , pak , sudah mau saya wawancara .
Pedagang : Oh , iya , sama-sama , dik .

Anton : Hehe . Selamat siang , pak .

Pedagang : Siang juga , dik ..

Hasil Wawancara Bahasa Indonesia pada Pedagang Ketiga

“ Pengalaman Kerja Pak Doni sebagai tukang bakso di sekitar rumah Giyang ”

Giyang : Selamat siang , pak .

Pedagang : Selamat siang juga , dik .

Giyang : Bolehkah saya menganggu bapak sebentar?

Pedagang : Ya , ada apa , dik ?

Giyang : Begini , pak , saya diberi tugas oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah . Tugasnya itu adalah wawancara . Jadi , saya dan teman teman harus mewawancarai seseorang yang memiliki perkerjaan kalangan menegah ke bawah . Jadi , boleh tidak saya mewawancarai bapak ?

Pedagang : Oh , tugas sekolah ya , boleh-boleh , kebetulan bapak sedang tidak ada pembeli .

Giyang : Nama bapak siapa ?

Pedagang : Nama bapak Doni .

Giyang : Hmm, nama lengkapnya ? Ada ?

Pedagang : Ada kok , dik . Lengkapnya Doni Suparna .

Giyang : Oh . Nama yang bagus , pak .

Pedagang : Wah , terima kasih , dik .

Giyang : Sama-sama ,pak . Hmm , bapak senang tidak berprofesi sebagai tukang bakso ?

Pedagang : Yah , dik , senang tidak senang . Habis mau bagaimana lagi , dik , keahlian yang bapak punya hanya berjualan bakso saja ..

Giyang : Ohh , gitu ya , pak . Kalau boleh tahu , bapak sekolah sampai kelas berapa ?

Pedagang : Saya sekolah hanya sampai kelas 4SD , dik .

Giyang : Kenapa tidak melanjutkan sampai tamat , pak ? Kok bapak hanya bersekolah sampai SD ?

Pedagang : Yah , biasa lah , dik . Masalah orang kurang mampu jaman sekarang , kekurangan biaya untuk sekolah . Hehe . Bersyukur , dik , masih bisa sekolah . Jangan sia-siakan jerih payah orangtuamu ya .

Giyang : Iya , pak . Hehe . Umur bapak sekarang berapa ?

Pedagang : Sekarang ? Hmm , kalau tidak salah sudah 45 tahun .

Giyang : Oh , masih muda juga ya , pak .

Pedagang : Haha , bisa saja kamu , dik .

Giyang : Oia , bapak asalnya darimana ya ?

Pedagang : Maksudnya , dik ?

Giyang : Huh ? Ooh , maksudnya bapak sebelum pindah ke Jakarta , tinggalnya di mana?

Pedagang : Ooh , saya tinggal di Lampung dulunya .

Giyang : Oh . Hmm , boleh tanya alasan kenapa bapak pindah ke Jakarta ?

Pedagang : Karena banyak orang bilang , Jakarta itu katanya tempat orang orang sukses berkumpul . Saya pun ingin mencoba sukses , dik .

Giyang : Ah , masa iya benar seperti itu , pak ?

Pedagang : Nyatanya sih tidak , dik . Saya pindah ke Jakarta dan kehidupan saya sama saja , miskin terus . Hahaha . Tapi , ya sudahlah sekarang saya sudah tinggal di sini jadi yah bapak lanjutkan saja pekerjaan ini . Hehe

Giyang : Oh , begitu ya , pak ! Hmm , boleh saya tahu alamat rumah bapak ?

Pedagang : Kenapa , dik ?

Giyang : Rumah bapak dimana ?

Pedagang : Rumah bapak di taman ratu .

Giyang : Hmm , sampai saat ini bapak sudah berkeluarga belum ?

Pedagang : Belum nih , dik . Belum dapat jodoh nih . Hehehe

Giyang : Wah , masa belum sih , pak ? Saya doakan supaya cepat dapat jodoh deh ya . Hehe

Pedagang : Hahaha , ada ada saja kamu . Terima kasih , ya .

Giyang : Iya , pak . Hahahah . Hmm , pertanyaan selanjutnya , bapak sudah berprofesi sebagai tukang bakso berapa lama ?

Pedagang : Hmm , kalau tidak salah bapak sudah berjualan selama 25 tahun .

Giyang : Wahh , sudah lama dong bapak bekerja . Bapak belajar membuat bakso dari siapa ?

Pedagang : Saya belajar sendiri , dik .

Giyang : Wah , hebat sekali , pak !

Pedagang : Iya. Hehehe . Bapak juga terbiasa membuat bakso dengan mata tertutup !

Giyang : Wah , masa sih , pak ?

Pedagang : Iya engga lah , dik . Bapak kan hanya bercanda kamu percaya aja sih . Hahahahaha .

Giyang : Yah si bapak ini kok malah bercanda . Hehe . Bapak kenapa berjualan menetap ?

Pedagang : Bapak berjualan menetap karena di sini sudah banyak pelanggannya sih . Hehe

Giyang : Bapak dari awal sudah berjualan secara menetap ?

Pedagang : Iya , dik .

Giyang : Bapak kenapa memilih profesi sebagai tukang bakso ?

Pedagang : Lhoo ? Kan tadi bapak sudah bilang karena tidak ada keahlian lain yang bisa bantu bapak menjalankan profesi lain .

Giyang : Ooh iya . Maaf deh ya , pak , saya lupa . Hehehe . Ngomong-ngomong penghasilan bapak perharinya berapa ya ?

Pedagang : Penghasilan kalau lagi rame atau sepi nih ?

Giyang : Hmm , dua-duanya pak !

Pedagang : Hmm , kalau lagi sepi sih kira-kira 150.000 atau lebih . Tetapi kalau lagi ramai paling sedikit bapak bisa memperoleh 250.000 , dik !

Giyang : Wah , banyak juga ya , pak .

Pedagang : Yah begitulah , dik .

Giyang : Selain dari berjualan bakso bapak dapat penghasilan dari mana lagi ?

Pedagang : Tidak ada lagi .

Giyang : Oh , gitu ya , pak . Dari penghasilan yang didapat bapak sudah dapat membeli apa saja ?

Pedagang : Maksudnya , dik ?

Giyang : Huh , hmm kayak televisi atau semacamnya .

Pedagang : Ooh , hmm , tidak banyak sih , dik . Bapak ada televisi di rumah tapi model yang lama habis keuntunganya tidak banyak alias sedikit . Hahahaha.

Giyang : Oh gitu . Kalau rumah yang di tinggali sekarang itu rumah kontrakan atau rumah milik bapak sendiri ?

Pedagang : Oh , tentu saja rumah kontrakan , dik .Tapi bapak berniat untuk membeli rumah sendiri sih . hehehe

Giyang : Wah , bagus dong . Saya doakan ya , pak , supaya keinginan bapak terkabul . Hehe

Pedagang : Terima kasih , dik !

Giyang : Hmm , penghasilan rata-rata tiap minggunya berapa pak?

Pedagang : Wah , saya tidak pernah menghitung penghasilan rata-rata perminggu bapak .

Giyang : Oh , ya sudah kalau begitu . Hm , pertanyaan terakhir nih , pak . Apa penghasilan bapak cukup untuk kebutuhan sehari hari ?

Pedagang : Wah , lebih dari cukup kok . Bapak kan orangnya hemat . Hahaha

Giyang : Oh . Hahah ada ada saja bapak ini . Saya doakan usahanya lancer terus ya , pak !

Pedagang : Wah , terima kasih , dik !

Giyang : Sama-sama , pak ! Oia , sebelum saya pulang , pesan satu porsi dong , pak ! Di bungkus yaa .

Pedagang : Oh , oke ! Beres , dik !

(Pak Doni membuatkan satu porsi bakso untuk giyang . Giyang menunggu . Tidak lama kemudian , bakso yang di pesan giyang sudah datang . )

Pedagang : Ini , dik , baksonya !

Giyang : Wah , terima kasih , pak ! Harganya berapa ?

Pedagang : 7000 saja , dik !

Giyang : Oh . Sebentar , pak ! ( Giyang mencari uang di sakunya , lalu memberikan kepada pak Doni ) Ini , pak !

Pedagang : Terima kasih , dik !

Giyang : Sama-sama , pak ! Oia , terima kasih , pak , sudah meluangkan waktu untuk saya wawancarai . Terima kasih juga bapak mau menjawab semua pertanyaan saya .

Pedagang : Ya , sama-sama .

Giyang : Selamat siang , pak !

Pedagang : Selamat siang juga !

Hasil Wawancara Bahasa Indonesia pada Pedagang Keempat

“ Pengalaman Kerja Mas Sutedjo sebagai tukang bakso keliling di daerah rumah Yuli ”

( Suatu sore yang agak mendung , yuli sedang mencari cari tukang bakso yang biasa lewat di depan rumahnya . Tak lama ia menunggu , akhirnya tukang bakso itu pun lewat . Ia bergegas untuk menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan untuk wawancara . Ia menghampiri si pedagang yang tidak sedang melayani pembeli lalu menyapanya )

Yuli : Selamat sore , mas !

Pedagang : Selamat sore , neng ! Ada yang bisa saya bantu ?

Yuli : Ada , tapi , mas sedang tidak sibuk kan ?

Pedagang : Kebetulan tidak nih , neng . Ada apa ya ?

Yuli : Hmm , saya diberi tugas oleh guru Bahasa Indonesia nih , mas , untuk mewawancarai orang orang yang berpenghasilan menengah ke bawah . Kebetulan saya memilih untuk mewawancarai tukang bakso , salah satunya mas ini . Boleh tidak saya wawancara ?

Pedagang : Hmm , gimana ya , neng .

Yuli : Ayolah , mas . Ini buat tugas sekolah saya soalnya .

Pedagang : Bolehlah kalau begitu , neng .

Yuli : Oke , deh ! Pertanyaan pertama , nama mas siapa ?

Pedagang : Nama saya Mas Tedjo

Yuli : Ada nama kepanjangannya , mas ?

Pedagang : Kepanjangannya hanya Mas Sutedjo .

Yuli : Ooh , mas Sutedjo ya . Hmm , Pendidikan terakhirnya apa , mas ?

Pedagang : Wah , say amah tidak sekolah , neng .

Yuli : Kenapa , mas ?

Pedagang : Tidak ada biaya , neng . Saya dari kecil yatim piatu .

Yuli : Oh , jadi mas tinggal dengan siapa dari kecil ?

Pedagang : Dengan nenek kakek saya , tapi sekarang mereka sudah meninggal .

Yuli : Oh , begitu yah . Hmm , mas umurnya berapa ?

Pedagang : Masih 28tahun , neng .

Yuli : Wah , masih muda banget ya , mas . Hahaha

Pedagang : Iya , neng .

Yuli : Hmm , sudah berkeluarga , mas ?

Pedagang : Belum , tapi dalam waktu dekat ini sudah ada rencana untuk menikah .

Yuli : Wah , selamat ya , mas ! Haha . Oia , berasal darimana , mas ?

Pedagang : Kampung saya maksudnya ? Saya asli orang Jakarta , neng .

Yuli : Oh , asli sini ya . Hmm , tinggal di daerah mana , mas ?

Pedagang : Di Pintu air .

Yuli : Oh , pintu air , dekat dong ya dari sini .

Pedagang : Iya , neng .

Yuli : Mas berprofesi sebagai tukang bakso sejak kapan ya ?

Pedagang : Wah , belum terlalu lama , neng . Baru 5tahun .

Yuli : Oh , berarti masih baru dong , ya . Hm , kenapa memilih berjualan berkeliling , mas ? Kenapa tidak menetap saja ?

Pedagang : Repot neng kalo menetap . Harus membayar pajak preman dan sebagainya . Lagi pula kalau berkeliling bisa mendapat penghasilan yang lebih .

Yuli : Oh . Pertama kali berjualan keliling dari daerah mana sampe mana saja , mas ?

Pedagang : Daerah pintu air sampai perempatan kedoya saja , neng . Lalu lama kelamaan masuk ke daerah sini .

Yuli : Oh , begitu . Hm , ngomong ngomong , berapa penghasilannya perhari , mas ?

Pedagang : Tidak menentu , neng . Kadang hanya 100.000 , kadang bisa lebih .

Yuli : Oia , mengapa memilih pekerjaan sebagai tukang bakso , mas ?

Pedagang : Kemampuan saya hanya ini , neng .

Yuli : Kenapa tidak melamar kerja saja ?

Pedagang : Sekolah saja tidak pernah . Hehe

Yuli : Oh begitu . Selama ini penghasilan mas sudah bisa membeli apa saja ?

Pedagang : Hanya untuk mengontrak rumah dan memenuhi kebutuhan sehari hari saja , neng ! Dan untuk biaya saya menikah nanti . Hehehe

Yuli : Oh , oke deh , mas ! Semoga lancar ya nanti pernikahannya . Dan semoga langgeng terus sampai kakek nenek . Hhehe

Pedagang : Makasih , neng .

Yuli : Sekian deh , mas , wawancaranya kali ini . Terima kasih sekali sudah meluangkan waktunya untuk di wawancarai . Semoga lancar terus usaha nya .

Pedagang : Sama sama , neng . Amin ..

Yuli : Selamat sore ..

Pedagang : Selamat sore , neng ..

b. Analisis data

Ø Latar Narasumber ( keluarga , pendidikan , profesi )

- Pedagang pertama ( Pak Man )

ð Memiliki 1istri , bernama Sumiati

ð Memiliki 3 orang anak , yaitu Eni , Ednu dan Triyanti . Ketiganya sudah bekerja

ð Pendidikan terakhirnya SMP

ð Profesi tukang bakso

- Pedagang kedua ( Pak Yanto )

ð Memiliki istri bernama Intan

ð Memiliki 2 orang anak , yaitu Irma dan Indah . Keduanya sudah menikah .

ð Pendidikan terakhirnya hanya lulusan SD

ð Profesi tukang bakso .

- Pedagang ketiga ( Pak Doni )

ð Belum menikah

ð Pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas 4SD

ð Profesi tukang bakso

- Pedagang keempat ( Pak Tedjo )

ð Belum memiliki istri , tapi sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat

ð Tidak bersekolah

ð Profesi tukang bakso keliling

Ø Alasan pemilihan profesi

Rata – rata alasan mereka memilih profesi ini karena keahlian mereka hanya dalam membuat bakso . Mereka ingin mencoba bekerja di suatu tempat , tetapi karena pendidikan mereka saja rata rata hanya sampai SD , mereka pun tidak bisa mewujudkan impian tersebut .

Ø Analisis penghasilan dan penggunaannya

Para pedagang yang kami wawancarai rata rata memiliki penghasilan tidak menentu . Penghasilan mereka kisaran 150.000 sampai 400.000 . Mereka menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari , membayar kontrakan , membeli bahan bahan pembuatan bakso dan lain lain

Ø Tanggapan penulis

Tanggapan kami sebagai penulis mengenai hasil wawancara ini adalah kami merasa puas akan hasil wawancara ini . Karena kami mendapatkan semua informasi yang kami butuhkan untuk tugas ini .

III. Penutup

a. Saran

Saran kami sebagai seorang siswa untuk para pedagang , agar memajukan kembali usaha yang di rintisnya itu . Naikkanlah kualitas produk yang mereka jual , agar kedepannya tidak ada kekecewaan yang timbul dari segenap anggota masyarakat . Dengan begitu penghasilan mereka juga akan bertambah , walaupun tidak signifikan . Penambahan kualitas juga akan memicu banyaknya orang yang akan membeli produk yang mereka jual , karena masyarakat tahu bahwa barang yang akan mereka konsumsi itu baik adanya .

b. Kesimpulan

Dari hasil wawancara ini kami menyimpulkan bahwa hampir semua pedagang bakso memulai berdagang dari umur yang masih muda . Ada yang sudah 30tahun berjualan , ada juga yang masih 5tahun . Ada yang berjualan keliling ada juga yang menetap . Ada yang sudah berkeluarga dan memiliki anak anak yang sudah berkerja , ada juga yang masih melajang . Mereka sebenarnya tidak mau berjualan bakso . Tapi apa daya kondisi yang menuntut mereka seperti ini . Jika mereka tidak bekerja , mereka pun tidak makan . Semua ini juga mereka lewati semata mata hanya untuk menghidupi seluruh keluarganya . Mereka cukup bahagia menjalani semua nya ini . Selama mereka bisa makan 3x sehari , mereka saja sudah bersyukur . Jadi , bersyukurlah bagi kita yang masih bisa bersekolah , makan 3x sehari setiap harinya dan tidur dengan nyenyak di kasur yang empuk . Masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dalam hidup di dunia yang semakin kacau ini . Demikian kesimpulan dari kelompok kami .

4 komentar: